Kemarin adalah SEJARAH , Besok adalah MASA DEPAN dan Hari ini adalah HADIAH DARI ALLAH SWT
Sabtu, 08 Juni 2013
Cara Menghilangkan jerawat secara alami
Cara menghilangkan jerawat secara alami dan cepat sebenarnya sangat banyak yang perlu dicoba. Bahkan bukan hanya menghilangkan jerawat saja, namun bisa juga untuk menghilangkan Noda bekas jerawat yang mungkin masih ada pada wajah anda. Jerawat dan noda bekas nya memang sangat mengganggu dan dapat mengurangi kecantikan wajah Anda. Pada kesempatan kali ini Kami akan memberikan informasi mengenai Cara menghilangkan Jerawat dan Noda Bekas Jerawat Secara Alami dan Cepat dengan lengkap dan perlu untuk Anda coba jika anda juga mengalami masalah pada wajah Anda akibat jerawat.
Menghilangkan jerawat merupakan sebuah proses dan memerlukan waktu seperti halnya penyembuhan penyakit yang lainnya, jadi tiak ada proses menghilangkan jerawat yang instan. Meskipun begitu bukan berarti tidak ada cara yang dapat menyembuhkan jerawat dengan cepat. Bahkan menggunakan cara alami sekalipun kita tetap dapat menyembuhkan jerawat dengan cepat dan tanpa memiliki efek samping yang membahayakan tubuh Anda. Cara menyembuhkan jerawat dengan instan justru malah diperanyakan keamanannya, karena jika menggunakan cara yang sehat dan alami penyembuhan jerawat tetap memakan beberapa waktu, namun hasilnya pun lebih baik dan pasti bertahan lama.
Cara menghilangkan Jerawat dan Noda Bekas Jerawat Secara Alami dan Cepat
Wajah Berjerawat
Dalam menyembuhkan atau menghilangkan jerawat dan noda yang mungkin timbul karena nya, wajah atau tubuh memerlukan asupan Vitamin yang mendukung untuk membersihkan kulit mati pada tubuh dan juga meminimalisir penyebab muncul nya jerawat. Vitamin yang dibutuhkan salah satu nya adalah Vitamin C (citric acid) yang mampu membersihkan kulit wajah dan tubuh dari minyak yang berlebih. Minyak yang berlebih pada wajah merupakan penyebab terbesar muncul nya jerawat. Berikut ini merupakan beberapa cara menghilangkan jerawat dan bekas jerawat secara alami dan cepat yang kami rangkum dan semoga bisa menjadi alternatif cara menghilangkan jerawat bagi Anda yang membutuhkannya.
Menghilangkan Jerawat dan Bekas Jerawat dengan Putih Telur
Caramenghilangkan Jerawat yang pertama adalah dengan menggunakan putih telur. Putih telur sangat cocok untuk menghilangkan jerawat pada wajah Anda. Cara menggunakan Putih telur seebagai obat untuk menghilangkan jerawat secara alami adalah sebagai berikut:
Siapkan putih secukupnya (pisahkan dahulu dengan kuning telur nya)
Kocok terlebih dahulu putih telur tersebut hingga rata.
Oleskan pada seluruh wajah atau bagian lain yang berjerawat secara merata.
Diamkan selama kurang lebih 15 menit.
Setelah lebih dari 15 menit, bilas wajah dengan air hangat yang bersih hingga benar-benar bersih.
Itulah cara menghilangkan jerawat dan Noda bekas jerawat dengan Putih telur, Namun jangan lewatkan juga cara menghilangkan jerawat secara alami dan cepat lainnya di bawah ini karena masih ada beberapa cara alternatif yang lain.
Menghilangkan Jerawat dan Bekas Jerawat dengan Jeruk Nipis
Jeruk nipis merupakan buah yang secara alami dapat dengan cepat menghilangkan jerawat. Cara untuk menghilangkan jerawa dan noda bekas jerawat dengan menggunakan jeruk nipis juga beragam sekali. Yang termudah adalah dengan menggosokkan jeruk nipis yang telah kita belah pada wajah atau kulit kita yang terkena jerawat. Cara ini dipercaya sangat ampuh dalam menghilangkan jerawat tersebut. Atau Anda juga bisa mencoba cara lain dengan memadukan jeruk nipis dengan bahan alami untuk mengobati jerawat lainnya seperti Jeruk Nipis dan Mawar, Cara nya adalah dengan merendam beberapa genggam helai bunga mawar yang masih segar kemudian anda rendam pada air secukupnya. Kemudian remas sedikit jeruk nipis dan juga mawar hingga rata. Setelah sekiranya telah merata, anda bisa mengoleskan air tersebut pada wajah atau kulit yang terdapat jerawat kemudian diamkan hingga kurang lebih 30 menit. Setelah 30 menit atau lebih, bilas wajah dengan air dingin hingga bersih.
Menghilangkan Jerawat dan Bekas Jerawat dengan Madu
Madu merupakan bahan alami yang memiliki khasiat dan manfaat sangat banyak. Masu berasal dari lebah yang memang terbukti memiliki manfaat yang sangat banyak dalam kesehatan tubuh manusia. Selain itu madu juga sangat berguna dalam merawat kecantikan wajah. Madu dapat digunakan untuk masker wajah untuk menjaga kecantikan kulit wajah dan juga mampu menghilangkan jerawat, bekas jerawat, serta mengurangi kemerahan dan iritasi akibat jerawat tersebut. Madu mengandung zat-zat penyembuh alami yang sagat berguna bagi tubuh yang terdiri dari berbagai enzim, antioksidan, dan anti bakterial. Selain itu madu juga memiliki zat yang mampu mengurangi minyak berlebih pada wajah anda sehingga sangat cocok untuk anda yang memiliki kulit wajah sensitif sekalipun. Berikut ini merupakan cara menghilangkan jerawat dan bekas jerawat dengan menggunakan madu:
Bersihkan wajah terlebih dahulu agar terhindar dari bekas make up atau zat lain yang menempel pada wajah Anda.
Siapkan satu sendok makan madu/ Secukupnya ke dalam sebuah wadah yang bersih, usahakan benar-benar madu murni yang masih mentah dan tidak diolah dengan cara modern yang notabene kurang baik.
Oleskan madu dengan menggunakan jari yang bersih hingga merata ke seluruh wajah
Diamkan hingga kurang lebih 15 menit
Setelah lebih dari 15 menit, bersihka wajah dengan menggunakan handuk atau kain yang dibasuh dengan air hangat hingga wajah bersih.
Lakukan cara ini secara rutin 2 sampai dengan 3 kali sehari dan kulit wajah Anda akan sehat dan terhindar dari gangguan jerawat. Selain itu masker madu diatas juga dipercaya mampu mengurangi penuaan kulit pada wajah.
Cara menghilangkan Jerawat dan Noda Bekas Jerawat Secara Alami dan Cepat
Wajah Sehat Terhindar Dari Jerawat
Cara perawatan wajah agar terhindar dari jerawat dan menghilangkan jerawat
Selain dengan menggunakan cara-cara yang telah disampaikan diatas, tentunya kita juga perlu melakukan hal lain yan gbertujuan untuk mencegah atau menjaga wajah dan kulit anda dari jerawat. Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan.
Jangan suka memencet jerawat yang sedang tumbuh atau berkembang karena justru dapat memperbesar Noda nantinya dan juga dapat menularkan jerawat.
Menggunakan wajah dengan zat yang mengandung asam salisilat.
Membiasakan wajah atau kulit mendapatkan Sinar Matahari yang cukup, alangkah baik nya jika sinar matahari pagi.
Istirahat dengan cukup.
Perhatikan pola makan dan buang air besar dengan teratur.
Jangan terlalu banyak memakan makanan yang mengandung lemak tinggi.
Perbanyak makan buah-buahan dan sayuran yang memiliki kadar serat yang tinggi.
Demikianlah Cara menghilangkan Jerawat dan NodaBekas Jerawat Secara Alami dan Cepat dan juga perawatannya agar wajah dan kulit Anda tetap cantik berseri tanpa takut terganggu oleh tumbuhnya jerawat dan bekas nya pada wajah Anda. Semoga artikel kali ini bisa bermanfaat bagi anda yang membaca. Banyak kekurangan kami mohon maaf. Salam sehat alami!
Asal usul nama SUMATERA
“SUMATERA”
oleh
IRFAN ANSHORY
di tulis ulang oleh : Muhammad Pandji
NAMA ASLI pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.
Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.
Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!
Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.
Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.
Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).
Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.
Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).
Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.
Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.
Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera.***
cara menjadi pribadi Tawadhu
5 Cara Menjadi Tawadhu
Intisari Majelis Manajemen Qalbu
Oleh KH. Abdullah Gymnastiar
Orang yang paling bahagia adalah orang yang menjadikan dirinya sebagai hamba
Allah Swt semata.
Orang yang paling menderita adalah orang yang menjadi menghambakan dirinya
selain kepada Allah Swt. Contohnya suami yang lebih takut kepada istrinya
dibandingkan kepada Allah, lebih takut akan kemarahan sang istri daripada
kemarahan Allah Swt. Istri lebih bergantung kepada suami, tidak kepada
Allah.
Orang yang tawadhu adalah orang yang berbahagia. Orang yang sombong
sesungguhnya tidak bahagia, ciri orang yang sombong adalah orang yang
merendahkan orang lain. Jangan juga menjadi orang yang rendah diri yaitu
merendahkan diri sendiri dari yang semestinya. Kita harus menjadi orang yang
pertengahan yakni orang yang rendah hati. Rendah hati artinya tawadhu,
sangat berbeda dengan rendah diri.
5 cara menjadi orang yang tawadhu :
1. Tidak merasa memiliki dan dimiliki melainkan semuanya adalah hanya Allah
Swt yang Maha Memiliki.
Semua yang ada di langit dan di bumi ini adalah milikNya. Menggunakan rumus
tukang parkir, banyak mobilnya, berganti-ganti, diambil pemiliknya tidak
merasa sombong maupun sedih, karena menyadari semuanya hanyalah titipan.
Sukses adalah memiliki akhir yang baik atau khusnul khatimah, tidak ada
orang yang sukses sebelum mendapat khusnul khatimah.
2. Sadar bahwa kita dihargai/dihormati orang lain hanya karena Allah
menutupi aib-aib kita yang banyak.
Jangan membohongi diri sendiri, merasa bangga dengan pujian orang lain
seolah-olah kita merasa benar bahwa diri kita seperti yang orang lain puji
itu. Padahal mungkin jika Allah Swt membeberkan semua aib kita, orang lain
akan merasa jijik dengan kita karena semua aib yang pernah kita lakukan.
Ketika kita menasehati/ceramah kepada orang lain, kita harus berkaca apakah
orang-orang terdekat kita mau mendengarkan omongan kita, karena mereka tahu
kelakuan kita sehari-hari. Analoginya jika orang terdekat saja sudah
melecehkan dan merasa muak dengan omongan kita karena tidak sesuai antara
perbuatan dan ucapan, apalagi Allah Swt yang Maha Dekat dan Mengetahui semua
yang kita lakukan, pandangan mata kita kepada yang diharamkan, perkataan
dusta kita, ucapan bohong kita, dan semua aib lainnya.
3. Tidak melihat orang lain lebih rendah daripada kita
Bisa jadi seorang pembantu rumah tangga yang berpakaian lusuh, pekerjaannya
mencuci piring, lebih mulia di sisi Allah Swt daripada seorang majikan yang
memakai perhiasan yang banyak, menggunakan pakaian sutera, namun kelakuannya
tidak memiliki nilai di mata Allah Swt. Menganggap rendah orang lain bisa
melalui pandangan, omongan, kelakuan, misalnya menggunakan telunjuk untuk
menyusuh seseorang tentu berbeda dengan menggunakan ibu jari, atau seluruh
jari.
4. Berani mengakui kelebihan jasa, kemuliaan orang lain kepada kita
Mengakui orang lain yang mendapatkan anugerah atau kemuliaan, tidak merasa
iri, juga mengakui bahwa apa yang kita peroleh tak lepas dari jasa orang
lain.
5. Harus ikhlas, jangan merasa sudah tawadhu
Kalau ada orang yang melakukan sesuatu dan merasa dirinya tidak layak
melakukan sesuatu itu, sudah merupakan tanda bahwa orang tersebut tidak
tawadhu. Contohnya pejabat yang merapikan sendal, lalu dalam hatinya ia
merasa mulia karena sudah mau merapikan sendal padahal ia merasa tidak
pantas melakukan hal tersebut. Merapikan sendal merupakan hal yang biasa,
dan bukan perbuatan nista. Apa salahnya pejabat merapikan sendal? tidak ada
yang salah, jadi jangan merasa hebat dan sudah tawadhu, karena itu ciri
bahwa kita tidak tawadhu.
Salam,
--
Muhammad Pandji
Rabu, 05 Juni 2013
Sekilas tentang PALEMBANG DARUSSALAM
Mengenal Adat Istiadat Palembang (Baso Palembang Alus/Bebaso).
LOGO PALEMBANG Sebagai salah satu kekayaan budaya Palembang dan sebagai jati diri Wong Kito (Melayu-Palembang), Baso Pelembang Alus (Bebaso) saat ini sudah hampir punah. Untuk itu perlu adanya usaha pelestarian dan mendokumentasikannya sebagai wujud kepedulian kita, diantaranya dengan mengadakan kursus atau menerbitkan buku kamur. Pepatah mengengatakan : “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.”
Untuk menumbuhkan rasa sayang dan cinta kepada Kota Palembang, terlebih dahulu kita harus mengenal sejarah dan budaya Palembang, termasuk dalam hal bahasa. Asal-usul Baso Pelembang Alus hampir menyerupai bahasa Jawa, oleh sebab itu banyak orang berasumsi bahwa bahasa Palembang berasal dari Jawa. Namun pada dasarnya tidaklah demikian, bahkan sebaliknya, identitas Palembang sebagai korabolasi dari kebudayaan Melayu-Jawa terlepas dari sejarah Palembang itu sendiri. Menurut sumber sejarah lokal, Kesultanan Palembang muncul melalui proses yang panjang dan berkaitan erat dengan kerajaan-kerajaan besar dipulau Jawa. Seperti Kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Palembang (Melayu-Sriwijaya) pada masa lalu adalah cikal bakal berdirinya kerajaan-kerajaan dipulau Jawa.
Dalam manuskrip sejarah Palembang diceritakan : Alkisah tersebutlah dalam satu masa di Bukit Siguntang duduk memerintah seorang raja bernama Raja Sulan yang mempunyai dua orang putra, masing-masing bernama Alim dan Mufti. Alim menjadi sultan setelah ayahandanya wafat, sedangkan Mufti menjadi sultan di Gunung Meru. Setelah Sultan Alim wafat ia digantikan oleh putranya tanpa melalui musyawarah dengan pamannya Sultan Mufti. Karena itu Sultan Mufti bermaksud untuk menurunkan putra Sultan Alim dari kedudukannya sebagai sultan di Bukit Siguntang.
Mendengar cerita tersebut maka putra Sultan Alim beserta rakyat dan pasukannya meninggalkan Bukit Siguntang menuju Indragiri. Mereka menetap di suatu daerah yang mereka pagari dengan uyung sebagai tempat pertahanan. Kemudian tempat tersebut bernama pagaruyung (Padang, Sumatera Barat). Setelah Sultan Mufti wafat, ia digantikan oleh putranya dengan pusat pemerintahan di Lebar Daun bergelar Demang Lebar Daun hingga tujuh turun lebih.
Demang Lebar Daun ini mempunyai seorang saudara kandung bergelar Raja Bungsu. Kemudian Raja Bungsu tersebut hijrah ke tanah Jawa, dinegeri Majapahit, bergelar Prabu Anom Wijaya atau Prabu Wijaya/Brawijaya sampai tujuh turun pula. Brawijaya yang terakhir memiliki putra bernama Aria Damar atau Aria Dilah dikirim ke tanah asal nenek moyangnya yaitu Palembang, ia dinikahkan dengan anak Demang Lebar Daun dan diangkat menjadi raja (1445 – 1486).
Ia juga mendapat kiriman seorang putri China yang sedang hamil, yakni istri ayahnya yang diamanatkan kepadanya untuk mengasuh dan merawatnya. Sang putri ini melahirkan putra yang diberi nama Raden Fatah atau bergelar Panembahan Palembang, yang kemudian menjadi raja pertama di Demak. Pada saat Raden Fatah menjadi Raja Demak (1478 – 1518), ia berhasil membesarkan kekuasaannya dan menjadikan Demak Kerajaan Islam pertama di Jawa.
Akan tetapi kerajaan Demak tidak mampu bertahan lama karena terjadinya perang saudara, setelah kerajaan Demak mengalami kemunduran, muncullah Kesultanan Pajang. Penyerangan Pajang ke Demak mengakibatkan sejumlah bangsawan Demak melarikan ke Palembang. Rombongan dari Demak yang berjumlah 80 orang di kepalai oleh Sido Ing Lautan (1547-1552) menetap di Palembang Lamo (1 Ilir) yang saat itu Palembang dibawah pimpinan Dipati Karang Widura, keturunan Demang Lebar Daun.
Mereka mendirikan istana Kuto Gawang dan Masjid di Candi Laras (Pusri sekarang). Pengganti Pangeran Sido Ing Lautan adalah anaknya, Ki Gede Ing Suro (1552-1573), setelah wafat digantikan oleh Kemas Anom Adipati Ki Gede Ing Suro Mudo (1573-1630). Kemudian diganti saudaranya Sultan Jamaluddin Mangkurat II Madi Alit (1629-1630). Kemudian Sultan Jamaluddin III Sido Ing Puro (1630-1639). Sultan Jamaluddin Mangkurat IV Sido Ing Kenayan (1639-1650). Sultan Jamaluddin Mangkurat V Sido Ing Peserean (1651-1652). Sultan Jamaluddin Mangkurat VI Sido Ing Rejek (1652-1659). Sultan Jamaluddin VII Susuhan abdurrahman Candi Walang (1659-1706). Sultan Muhammad Mansyur (1706-1714). Sultan Agung Komaruddin (1714-1724). Sultan Mahmud Badaruddin (1724-1757), dst.
Pada abad ke-16 di Palembang mulai terbentuk dan tumbuh suatu pemerintahan yang bercorak Islam. Pangeran Aria kesumo (Kemas Hindi) pada tahun 1666 memproklamirkan Palembang menjadi negeri Kesultanan beliau bergelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam berkuasa (1659-1706). Dengan demikian Islam telah menjadi agama Kesultanan Palembang Darussalam dan pelaksanaan hukum Islam berdasarkan ketentuan resmi hingga berakhirnya Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1823.
Dengan demikian jelaslah bahwa bahwa sejarah Melayu Palembang dalam perkembangannya dipengaruhi budaya Jawa , yang paling tidak masih dapat kita sekarang ini antara lain : Rumah Limas, pakaian adat, dan bahasa.
Bebaso Bahasa Palembang berasal dari bahasa Melayu Tua yang berbaur dengan bahasa Jawa dan diucapkan menurut logat/dialek Wong Pelembang. Seterusnya bahasa yang sudah menjadi milik Wong Palembang ini diperkaya pula dengan bahasa-bahasa Arab, Urdhu, Persia, China, Portugis, Inggris, dan Belanda. Sedangkan aksara bahasa Melayu Palembang menggunakan aksara Arab (Arab-Melayu) atau tulisan Arab berbahasa Melayu (arab gundul/pagon).
Bahasa Palembang terdiri dari dua macam, pertama, merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan hampir setiap orang di kota ini atau disebaut juga bahasa pasaran. Kedua, bahasa halus yang digunakan oleh kalangan terbatas (bahasa resmi Kesultanan). Biasanya dituturkan oleh dan untuk orang-orang yang dihormati atau yang usianya lebih tua. Seperti dipakai oleh anak kepada orang tua, menantu kepada mertua, murid kepada guru, atau antar penutur yang seumur dengan maksud untuk saling menghormati, karena Bebaso artinya berbahasa sopan dan halus.
Bahasa daerah Palembang boleh dikatakan bahasa yang mudah, dibanding dengan bahasa-bahasa daerah lainnya. Untuk bahasa sehari-hari (pasaran), hanya gayanya saja yang agak berbeda dengan bahasa Indonesia, dan beberapa kata atau istilah saja berlainan, kebanyakan huruf A diujung diganti dengan huruf O. Seperti “apa” menjadi “apo”, “nama” menjadi “namo” dan seterusnya, karena itu orang-orang datangan di Kota Palembang ini mudah sekali mempelajari dan memakai bahasa sehari-hari sebagai bahasa penghubung/komunikasi bagi seluruh daerah di Sumbagsel.
Namun walaupun demikian bahasa daerah sehari-hari itu ada gaya yang khas yang terkadang kentara sekali bagi orang baru memakainya terdapat kejanggalan. Sedangkan Bebaso adalah agak lebih sulit dan berbea sekali istilahnya dengan bahasa sehari-hari (Kromop Inggil). Sekarang ini sudah tidak banyak lagi Wong Pelembang bebaso, karena itu sudah jarang terdengar. Anak-anak muda boleh dikatakan banyak yang tidak dapat, begitu juga orang-orang dewasa.
Sehingga seolah-olah sekarang ini bebaso itu hampir hilang. Oleh sebab itu bebaso ini harus dibiasakan dalam pergaulan sehari-hari kepada siapapun sebab didalamnya terdapat norma, adab, dan sopan santun, sehingga bila dibiasakan akan mendatangkan kebaikan dan besar kemungkinana terhindar dari salah paham, tersinggung, cekcok, dan sebagainya. Bebaso juga enak didengar dan dipandang mata, karena penyampaiannya secara sopan dan halus, nada suaranya tidak tinggi, lembut, serta dengan sikap merendah. Contoh kedua bahasa Palembang Pasaran (P) dan Bebaso (B) :
P : Mang Cek, aku ni nak betanyo, dimanolah rumah Cek Awang?
B : Mang Cek, kulo niki ayun betaken, pundila rompol Cek Awanh?
(Paman, saya mau bertanya, dimanakah rumah Pak Awang?)
P : O, idak jao, parak rumah aku, itulah rumah Cek Awang.
B : O, nano tebe, pangge rompok kulo,nikula rompok Cek Awang.
(O, tadak jauh, dekat rumah saya, disitulah rumah Pak Awang)
Tata cara sholat menurut nabi MUHAMMAD SAW
Berikut ini rangkaian tata cara shalat yang baik dan benar, dilengkapi dan bacaan dan do’a yang sesuai dengan tata cara shalat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tutorial tata cara shalat ini cocok untuk bagi Anda yang belum bisa shalat, atau bagi Anda yang sudah bisa shalat akan tetapi ingin menyempurnakan gerakan dan bacaan shalat Anda
1. Berdiri tegak menghadap kiblat, pandangan ke arah tempat sujud, kemudian lakukan takbiratul ihram.
2. Angkat kedua tangan sejajar pundak atau telinga, hadapkan telapak tangan ke arah kiblat, dan ucapkan Allahu akbar.
3. Bersedekap, dengan meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri, atau di atas pergelangan atau lengan tangan kiri.
4. Letakkan tangan di depan dada. Tetap tundukkan pandangan ke arah tempat sujud.
5. bacalah doa iftitah dengan pelan:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ من الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْني مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالمَاءِ وَالبَرَدِ
6. Bacalah ta’awudz dengan pelan:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
7. Bacalah Surat Al-fatihah, dan sebelumnya membaca basmalah dengan pelan, dan berhenti di setiap akhir ayat.
8. Ucapkanlah amiin setelah selesai Al-fatihah, baik jadi imam, makmum, maupun shalat sendiri.
9. Keraskan bacaan amiin jika anda menjadi makmum.
10. Bacalah surat yang anda hafal.
11. Diam sejenak seusai baca surat.
12. Mulai rukuk dengan mengangkat kedua tangan sejajar pundak atau telinga, ucapkan Allahu akbar sambil bergerak turun.
13. Letakkan telapak tangan di lutut, dengan posisi mencengkeram, jari-jari direnggangkan, dan siku agak dibentangkan.
14. Punggung lurus, kepala lurus dengan punggung, dan lakukan dengan thumakninah.
15. Bacalah doa rukuk setelah anda sempurna rukuk:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ
16. Bangkit, sambil mengucapkan:
سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَه
17. Disambung dengan bacaan:
رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ
dalam posisi sudah berdiri sempurna
18. Dianjurkan untuk memperlama berdiri i’tidal dan bersikap tenang.
19. Durunlah menuju sujud sambil bertakbir: Allahu akbar dan letakkan tangan sebelum lutut.
20. Sujud dengan bertumpu pada 7 anggota badan: wajah (kening dan hidung), dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki.
21. Posisi jari tangan dirapatkan menghadap kiblat, telapak tangan sejajar pundak atau sejajar telinga.
22. Tangan membentang ke samping, punggung posisi tengah dan kaki hampir menyiku.
23. Tenang dan bacalah doa sujud:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
24. Bangkit dari sujud sambil membaca takbir: Allahu akbar, kemudian duduk iftirasy.
25. Punggung tegak, letakkan telapak tangan di atas paha atau lutut, posisi jari agak renggang
26. Baca doa:
رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي
27. Kemudian bergerak turun sambil bertakbir. Dan sujudlah sebagaimana cara yang pertama.
28. Bangkit dari sujud, tanpa membaca takbir, lakukanlah duduk istirahat sejenak, dengan Posisi duduk iftirasy.
29. Kemudian berdiri ke rakaat berikutnya dengan bertumpu pada kedua tangan, sambil bertakbir.
30. Berdirilah sempurna dan langsung sedekap.
31. Lakukan seperti yang anda lakukan pada rakaat sebelumnya.
32. Setelah anda mendapatkan dua rakaat, bertakbir kemudian duduk tasyhud awal. duduk iftirasy,
letakkan telapak tangan di atas paha atau lutut, posisi jari agak renggang, acungkan jari telunjuk tangan kanan
33. Baca doa tasyahud awal:
التَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنَا، وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلَّا الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
34. Dianjurkan untuk ditambah dengan bacaan shalawat:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
35. Bangkit dengan membaca Allahu akbar. Dan setelah sempurna berdiri angkatlah kedua tangan dan bersedekaplah.
36. Setelah di rakaat terakhir, duduknya tanyahud akhir dengan posisi tawarruk. Posisi tangan di atas paha, acungkan telunjuk tangan kanan.
37. Bacalah tasyahud dan shalawat:
التَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنَا، وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلَّا الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ * اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
38. Berdoalah memohon perlindungan dari 4 hal:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّال
39. Anda boleh berdoa yang lainnya:
اللَّهُمَّ أعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
40. Selanjutnya salam, menoleh ke kanan sampai kelihatan pipi kanan dari belakang dengan mengucapkan:
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
41. Dan salam ke kiri sampai kelihatan pipi kiri dari belakang dengan mengucapkan:
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
42. Baca istighfar dan lanjutkan berdzikir. Semoga Allah menerima ibadah kita
Semoga bermanfaat sobat
Minggu, 02 Juni 2013
Keutamaan Surat Al Kahfi
Surat Al Kahfi
Surat Al-Kahfi merupakan salah satu surat Al-Quran Al-Karim yang mempunyai keagungan dan keutamaan dibanding beberapa surat yang lain.
Akan tetapi tidak sedikit dari kaum muslimin yang belum mengetahui keagungan dan keutamaannya, sehingga sebagian mereka jarang atau bahkan hampir tidak pernah membaca dan menghafalnya.
Terlebih khusus pada hari dan malam Jumat. Mereka lebih suka dan antusias membaca surat Yasin yang dikhususkan pada malam Jumat dengan harapan mendapatkan keutamaannya. Namun sayangnya, semua hadits yang menerangkan keutamaan surat Yasin tidak ada yang Shohih datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Demikianlah keadaan umat Islam. Tidaklah mereka bersemangat mengamalkan hadits-hadits lemah dan palsu serta tidak jelas asal-usulnya, kecuali sebanyak itu pula mereka meninggalkan amalan-amalan sunnah yang dijelaskan di dalam-hadits-hadits shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Adapun keutamaan dan keagungan surat Al-Kahfi, maka akan didapatkan oleh setiap muslim dan muslimah yang membacanya dengan niat ikhlas demi mengharap wajah dan ridho Allah, mengimani dan menghayati makna-maknanya serta berusaha mengamalkan hukum dan pelajaran yang terkandung di dalamnya sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Berikut ini kami akan sebutkan hadits-hadits shohih tentang keutamaan surat Al-Kahfi.
Hadits Pertama
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ »
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua Jum’at.”
[Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok II/399 no.3392, dan Al-Baihaqi di dalam Sunannya III/249 dengan no.5792]
Derajat Hadits : Hadits ini derajatnya Shohih.
Al-Hakim berkata: “Isnad Hadits ini shohih, akan tetapi imam Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya”.
Syaikh Al Albani berkata: “Hadits ini shohih.” (lihat Shohih Al-Jami’ no. 6470, dan Shohih At-Targhib wa At-Tarhib I/180 no.736).
Hadits Kedua
عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » وفي رواية ـ من آخر سورة الكهف ـ
Dari Abu Darda’ radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.”
[Diriwayatkan oleh Muslim I/555 no.809, Ahmad V/196 no.21760, Ibnu Hibban III/366 no.786, Al-Hakim II/399 no.3391, dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman V/453 no.2344]
Derajat Hadits : Hadits ini derajatnya Shohih.
Syaikh Al Albani berkata: “Hadits ini shohih.” (lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah II/123 no.582).
Dan di dalam hadits lain dijelaskan maksud daripada perlindungan dan penjagaan dari fitnah Dajjal ialah sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ [ فَإِنَّهَا جِوَارُكُمْ مِنْ فِتْنَتِهِ
“…maka barangsiapa di antara kalian yang menjumpai Dajjal, hendaknya ia membacakan di hadapannya ayat-ayat pertama surat Al-Kahfi, karena ayat-ayat tersebut (berfungsi) sebagai penjaga kalian dari fitnahnya.”
[Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shohihnya bab Dzikru Dajjal, IV/2250 no.2937, dan Abu Daud II/520 no.4321, dari jalan Nawas bin Sam’an radhiyallahu anhu]
Hadits ini dinyatakan Shohih oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah II/123 no.582, Tahqiq Misykat Al-Mashobih III/188 no.5475, dan Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud IX/321 no.4321.
Hadits Ketiga
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من قرأ سورة الكهف كما أنزلت ، كانت له نورا يوم القيامة من مقامه إلى مكة ، ومن قرأ عشر آيات من آخرها ثم خرج الدجال لم يسلط عليه ، ومن توضأ ثم قال : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، كَتَبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابَعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ»
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi sebagaimana diturunkannya, maka surat ini akan menjadi cahaya baginya pada hari Kiamat dari tempat tinggalnya hingga ke Mekkah. Dan barangsiapa membaca sepuluh ayat terkahir dari surat Al-Kahfi lalu Dajjal keluar (datang), maka Dajjal tidak akan membahayakannya. Dan barangsiapa berwudhu lalu ia mengucapkan “subhaanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika” (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq diibadahi selain Engkau, aku memohon ampunan dan aku bertaubat kepada-Mu), maka ia akan ditulis pada lembaran putih yang bersih, kemudian dicetak dengan alat cetak yang tidak akan robek sampai hari Kiamat.”
[Diriwayatkan oleh An-Nasa’i di dalam ‘Amal Al-Yaumi wa Al-Lailati no.81 dan 952, Ath-Thobroni di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath II/123 no.1455, dan Al-Hakim I/752 no.2072 dan beliau berkata; hadits ini Shohih sesuai dengan syarat imam Muslim, akan tetapi keduanya (maksudnya imam Bukhori dan Muslim) tidak mengeluarkannya di dalam kitab Shohih keduanya]
Derajat Hadits : Hadits ini derajatnya Shohih.
Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini shohih.” (lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah VI/312 no.2651)
Demikianlah beberapa hadits shohih tentang keutamaan dan keagungan surat Al-Kahfi. Mudah-mudahan kita semua diberi kemudahan oleh Allah untuk dapat mengamalkannya dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Sabtu, 18 Mei 2013
Keutamaan Surat AL-MULK
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}. وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة »
“Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafa’at (dengan izin Allah Ta’ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dalam riwayat lain: “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga”[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca surat ini secara kontinyu[2], karena ini merupakan sebab untuk mendapatkan syafa’at dengan izin Allah Ta’ala.
Hadits ini semakna dengan hadits lain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu surat dalam al-Qur’an yang hanya (terdiri dari) tiga puluh ayat akan membela orang yang selalu membacanya (di hadapan Allah Ta’ala) sehingga dia dimasukkan ke dalam surga, yaitu surat: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan”[3].
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
- Keutamaan dalam hadits ini diperuntukkan bagi orang yang selalu membaca surat al-Mulk dengan secara kontinyu disertai dengan merenungkan kandungannya dan menghayati artinya[4].
- Surat ini termasuk surat-surat al-Qur’an yang biasa dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum tidur di malam hari, karena agungnya kandungan maknanya[5].
- Sebagian dari ulama ahli tafsir menamakan surat ini dengan penjaga/pelindung dan penyelamat (dari azab kubur)[6], akan tetapi penamaan ini disebutkan dalam hadits yang lemah[7].
- Al-Qur’an akan memberikan syafa’at (dengan izin Allah) bagi orang yang membacanya (dengan menghayati artinya) dan mengamalkan isinya[8], sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia)”[9].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 22 Jumadal ula 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
[1] HR Abu Dawud (no. 1400), at-Tirmidzi (no. 2891), Ibnu Majah (no. 3786), Ahmad (2/299) dan al-Hakim (no. 2075 dan 3838), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim dan disepakati oleh imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.
[2] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/453).
[3] HR ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 3654) dan “al-Mu’jamush shagiir” (no. 490), dinyatakan shahih oleh al-Haitsami dan Ibnu hajar (dinukil dalam kitab “Faidhul Qadiir” 4/115) dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “Shahiihul jaami’ish shagiir” (no. 3644).
[4] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/115).
[5] HR at-Tirmidzi (no. 2892) dan Ahmad (3/340), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 585).
[6] Lihat kitab “Tafsir al-Qurthubi” (18/205).
[7] Lihat kitab “Dha’iifut targiibi wat tarhiib” (no. 887).
[8] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (2/240).
[9] HSR Muslim (no. 804).
Langganan:
Postingan (Atom)